Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2015

Desa Sumber Pakem

Desa ini adalah desa dimana saya ditempatkan untuk Kuliah Kerja Terpadu (KKT) pada tahun 2012. Banyak kisah, banyak pengalaman, banyak teman yang saya dapat dari KKT ini. Tidak terkecuali pemandangan alam yang masih alami, dimana Gunung Raung terlihat jelas ketika pagi hari. Desa ini memang termasuk desa yang letaknya dekat dengan kaki gunung Raung. Terletak di Kecamatan Sumber Jambe desa ini  memiliki banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Salah satunya adalah batik, kemudian kerajinan bambu (dupa), saya mugkin tidak akan bercerita banyak karena saya tidak pandai bercerita. Namun perkenankan saya untuk bercerita lewat poto yang saya abadikan.

Suasana halaman balai desa setelah hujan

Banner Kelompok 10 KKT Tahun 2012

Belalang sembah di halaman balai desa Sumber Pakem

Persawahan di depan balai desa

Jalanan di desa Sumber Pakem berlatar G. Raung

Penampakan pagar balai desa

PAUD "Durian 25" yang kami rintis bersama warga

Penampakan balai desa dari area persawahan

Pelangi di atas balai desa Sumber Pakem

Persawahan di depan balai desa dengan latar G. Raung

Sungai yang ada di desa Sumber Pakem

Salah satu hasil batik Sumber Pakem

Foto bersama siswa/i MA Baitul Azhar, Sumber Pakem

Foto bersama mahasiswa/i KKT Kecamatan Sumber Jambe bersama Camat Sumber Jambe

Korcam Sumber Jamber (kiri) dan Kordes Sumber Pakem di air terjun Rowosari
»»  Selengkapnya...

Minggu, 11 Oktober 2015

Belajar Teruslah Belajar

 Pada bulan Juni 2015, saya lupa tanggalnya :p ketika mengantar adik ke salah satu dinas di Kabupaten Jember, saya menjumpai beberapa burung Bondol Haji atau Emprit Haji atau Pipit Haji atau Peking Kaji atau Lonchura maja atau White-headed Munia yang terbang ke sana kemari. Lalu saya tersadar di tanah (pavingan) ternyata ada dua ekor burung yang masih anak-anak dan sedang belajar terbang. Ternyata itu adalah anak dari burung Emprit Haji. Orang tua Si Emprit Kecil tampak enggan turun ke bawah karena ada saya di situ. Kemudian saya berlagak kayak cameraman national geo :p diam tak bergerak agar sang hewan tak merasa terganggu. Dan akhirnya saya pun merekamnya dalam video :)

Video pertama


Video kedua


Video ketiga


Dalam kehidupan ini kita tidak pernah diajarkan untuk berhenti belajar. Proses belajar itu dimulai ketika kita sudah berada di rahim ibunda kita hingga ajal menjemput kita. Saat kita masih bayi, kita hanya bisa menangis meraung-raung, namun kini kita bisa melakukan banyak hal (termasuk bisa membaca blog ini :p ). Dan saat usia tua datang pun kita tak bisa melepas dari proses belajar, salah satu contohnya adalah dengan semakin maju dan canggihnya teknologi membuat banyak orang tua yang belajar bagaimana mengoperasikan gadget. Belajar itu mudah asal kita mau. Belajar itu bukan melihat siapa yang mengajari tapi apa yang bisa kita dapat dari siapapun itu. Yuk Belajar :)

»»  Selengkapnya...

Jumat, 13 Maret 2015

Menghidupkan Sang Letkol ( Moch. Sroedji )

 Hidup di Indonesia tentu takkan asing mendengar kata pahlawan ataupun pejuang. Setiap daerah tentu mempunyai pahlawan masing-masing, tak terkecuali di Jember. Sebuah kota yang tidak seramai Surabaya, tidak sepadat Jakarta, kota yang di dalamnya menyimpan banyak misteri sejarah yang patut diungkap. Termasuk sejarah kepahlawanan yang melegenda di kawasan eks karisedenan Besuki, seorang patriot, seorang teladan bagi masyarakat, teladan bagi para generasi muda. Pahlawan itu memang tak banyak terekspos namun berbagai cerita dari para pelaku sejarah, sanak keluarga dari pelaku sejarah, maupun dari artikel yang ada (baik di media cetak maupun maya) mengatakan bahwa ada seorang pemimpin yang dengan gigih dalam berjuang melawan koloni Belanda, dia rela mengorbankan segalanya demi masa depan bangsa Indonesia. Dan orang-orang memanggilnya Letkol Moch. Sroedji, sosok pahlawan dari Jember.
                Bagi masyarakat Jember sudah sepatutnya tahu bahwa Letkol Moch. Sroedji adalah seorang pahlawan yang patut diteladani. Beliau merupakan sosok yang luar biasa, luar biasa peduli, luar biasa semangatnya, luar biasa kegigihannya. Sebuah usulan agar Letkol Moch. Sroedji menjadi pahlawan nasional adalah sebuah hal yang patut diperjuangkan. Ini dikarenakan perjuangan beliau benar-benar luar biasa, khususnya pada saat berjuang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948-1949. Jika anda belum mengenal atau belum tahu bagaimana perjuangan beliau, saya merekomendasikan sebuah buku berjudul Sang Patriot yang ditulis oleh salah seorang cucu beliau. Dalam buku tersebut kita bisa merasakan sebuah perjalanan hidup yang singkat dari seorang Moch. Sroedji. 66 tahun yang lalu beliau gugur dalam usia yang tergolong muda (34 tahun) sebagai syuhada (insyaAllah), sebagai komandan brigade pada pertempuran maut di desa Karangkedawung, Jember. Dimana beliau juga sampai rela meninggalkan istri dan keluarganya demi masa depan rakyat Indonesia.
Saya sebagai putra daerah sejatinya tidak pernah mendengar kisah dan, tidak pernah tahu seperti apa sosok serta kisah Moch. Sroedji sampai saya bergabung di Pramuka Unej. Di sana saya bisa tahu dan sedikit merasakan apa yang telah beliau lakukan dalam perjuangannya. Dalam napak tilas Letkol Moch. Sroedji (nalasud) yang dilaksanakan Pramuka Unej, saya merasakan sebagian kecil dari perjalanan wingate action yang dilaksanakan beliau bersama 5000 rombongannya. Menyusuri jalanan setapak melintasi sungai, persawahan, hutan, jalan desa sejauh kurang lebih 150 km. Memang kami yang hanya menapaki jarak 150 km dengan kondisi sekarang jelaslah berbeda 180 derajat. Jika kami lebih banyak berjalan di bawah sinar matahari, maka dulu Sang Letkol beserta rombongannya lebih banyak berjalan di bawah sang rembulan agar tidak ketahuan musuh. Jika kami mudah untuk mendapatkan logistik maka dulu logistik Sang Letkol beserta rombongan sangat terbatas, hanya ketika melintasi perkampungan penduduk mereka bisa berharap banyak, selebihnya mereka bertahan di alam. Jika kami berjalan tanpa ada rasa kekhawatiran yang besar maka Sang Letkol berjalan dengan penuh kekhawatiran, bagaimana jika mereka dihadang atau bertemu musuh, bagaimana jika mereka tiba-tiba disergap musuh, bagaimana jika keberadaan mereka diketahui musuh. Sungguh perjalanan yang berat, dengan kondisi keadaan perang, beliau mampu pemimpin dan meramu strategi agar rombongannya bisa bertahan dan sukses dalam misi wingate action. Sebagai seorang komandan, beliau turut ikut turun dan berada di garis terdepan demi rakyatnya dan masa depan bangsa ini.
Dari cerita yang pernah saya dengar dan dari buku Sang Patriot tergambar bahwa Letkol Moch Sroedji benar-benar sosok yang bersahaja. Saya tidak tahu apakah hal ini adalah satu-satunya di Indonesia atau sebuah hal yang jarang terjadi, bahwa makam beliau tidak berada di Taman Makam Pahlawan melainkan berada di Tempat Pemakaman Umum, ini adalah wasiat beliau yang ingin dimakamkan berdampingan dengan rakyat Indonesia yang juga ikut berjuang dengan membela para tentara gerilya tanpa pamrih. Sebagai seorang komandan, beliau sangat pantas untuk diteladani karena dalam keseharian beliau mencerminkan seorang manusia yang sederhana, mudah bercengkerama dengan orang-orang disekitarnya, tutur katanya mampu memotivasi banyak orang, dan sebagai kepala keluarga beliau juga luar biasa, ketika dalam perjuangan beliau tak pernah lupa dengan keluarganya meski terpisah jarak yang jauh. Dan saya rasa pengajuan beliau sebagai pahlawan nasional sangat beralasan. Bagaimana tidak, saat beliau melakukan perjalanan wingate, Belanda menetapkan Moch. Sroedji sebagai buron dengan imbalan 1000 gulden. Itu membuktikan bahwa posisi dan keberadaan beliau menjadi ancaman yang nyata bagi Belanda serta beliau merupakan sosok yang berpengaruh dalam mempertahankan kemerdekaan ini dalam medan pertempuran khususnya di daerah Jawa Timur. Bagaimana tidak, setelah beliau gugur, jasad beliau diperlakukan dengan keji dan tidak manusiawi oleh tentara Belanda, jasad dibuat nyaris hancur, beberapa bagian tubuhnya ada yang dipotong, serta diseret truk sejauh 40 km hanya untuk mematahkan semangat dari sisa pejuang yang ada.
Sebagai masyarakat Jember saya merasa bangga memiliki sosok pahlawan yang begitu patriot dalam perjalanan sejarah perjuangan beliau. Namun tidak hanya itu saja, saya berharap generasi muda sekarang bisa tahu bagaimana sejarah ini terukir. Karena melihat kondisi realita sekarang, banyak pemuda yang lupa akan sejarah, tidak peduli, terkesan acuh padahal sejarah adalah salah satu hal yang pokok yang tidak bisa dihilangkan dari syarat kemajuan dan perkembangan suatu bangsa. Sejarah memiliki banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya sehingga dalam menyongsong masa depan, bangsa ini mampu lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Sangat miris jika generasi muda tidak tahu sejarah, tidak kenal siapa pahlawan lokal di daerahnya, apalagi pahlawan nasional. Di negeri ini banyak sekali pahlawan, patriot, tapi seiring dengan kemajuan zaman mereka banyak terlupakan atau bahkan dilupakan. Bahkan tidak hanya itu, rasa nasionalisme, rasa bangga akan bangsa, rasa memiliki terhadap bangsa, rasa cinta terhadap tanah air kini semakin memudar. Perjuangan dengan pengorbanan harta, darah, nyawa akan sia-sia belaka jika nantinya masyarakat sudah tidak lagi memiliki kesadaran akan berbangsa dan bertanah air.

Memang tak banyak generasi muda atau bahkan masyarakat Jember yang masih belum tahu perjuangan Sang Letkol, hal itu dikarenakan tidak banyak data atau info yang ada. Namun sejak salah seorang cucu beliau menulis buku Sang Patriot yang menggambarkan kehidupan dan perjuangan beliau dan beberapa orang yang peduli akan sejarah kota Jember ini, saya optimis bahwa Sang Letkol akan kembali lahir kembali dalam jiwa-jiwa masyarakat khususnya generasi muda. Dengan berbagai program telah dilaksanakan untuk menghadirkan kembali sosok Sang Letkol yang menyejarah ini. Terutama dengan dijadikannya Sang Letkol menjadi pahlawan nasional, ini akan membuka jalan keinginan masyarakat seperti apa sosok Letkol Moch. Sroedji. 
»»  Selengkapnya...

Rabu, 27 Februari 2013

Jangan Berhenti Karena Susah

Ada seseorang yang susahbangkit dari keterpurukan setelah di PHK. Dia mau mencari kerja, umur sudah tidak muda lagi. Dia mau menjalankan bisnis, tetapi sudah berkali-kali mencoba tidak ada satu pun yang berjalan terus. Dia selalu berhenti di tengah jalan.
Apa yang menjadikan dia selalu berhenti? Sederhana, karena dia begitu akrab dengan kata susah atau sulit. Dia berkata bahwa dia sudah berusaha, tapi ternyata sulit. “Ternyata susah juga untuk membangun bisnis.” Dan berbagai komentar lainnya yang bernada sulit.
Dia meminta nasihat kepada saya. Saya berikan beberapa nasihat. Apa jawabannya? Tidak lepas dari dua kata itu:
“Susah.”
“Sulit.”
Saya mencoba untuk memberikan inspirasi yang bercerita tentang seseorang yang berhasil membangun bisnis dengan berawal 1 buah gerobak bakso menjadi ratusan gerobak bakso. Saya jelaskan kalau orang ini merangkak dari nol dan sampai akhirnya berhasil.
Apa reaksi dia? Dia berkata:
“Saya sering mendengar cerita keberhasilan. Tapi sayang tidak diceritakan susahnya membangun bisnis.”
Dia terus berkata susah, sulit, susah, sulit, tidak mudah, dan sebagainya. Banyak orang yang seperti ini!
Jika Anda termasuk orang yang seperti ini, saya mau bertanya.
“Memang susah. Memang tidak mudah. Memang sulit. Lalu?”
Sahabat, coba pikirkan. Jika bisnis itu mudah. Tentu akan banyak sekali orang yang berbisnis dan kaya raya. Pada kenyataanya memang sedikit sekali orang yang mau berbisnis dan bertahan di bisnis. Karena memang, bisnis itu susah, bisnis itu sulit, dan perlu kerja keras untuk menjalankannya. Bisnis memang hanya untuk orang yang berani, tekun, sabar, dan mau kerja keras sampai berhasil.
Sekarang, pilihan Anda. Apakah mau melewati masa susah membangun bisnis atau tidak?
Jika Anda punya kemauan, maka ambillah tindakan. Jika susah, Anda bisa belajar. Jika tidak tahu, Anda bisa mencari tahu. Jika lama, Anda bisa bersabar. Jika tidak punya modal, Anda bisa mencari modal. Jika tidak bisa mencari modal, Anda bisa belajar mencari modal. Allah sudah memberikan potensi kepada Anda. Anda punya hati, Anda punya akal, dan Anda punya energi. Gunakanlah.
Memang akan banyak menghadapi masalah. Tapi Allah sudah memberikan akal kepada kita untuk mengatasi masalah. Memang perlu kerja keras, tapi Allah sudah memberikan tangan dan kaki kepada kita untuk bekerja keras. Allah sudah memberikan sistem pencernaan yang bisa mengubah makanan menjadi energi. Apa lagi yang kurang?
Sahabat, jangan berhenti karena susah. Kita sudah diberik potensi yang dahsyat oleh Allah untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi. Kesulitan memang untuk kita hadapi, untuk kita lewati, sebab kemudahan akan datang setelah kesulitan.
Kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.” (HR Ahmad)
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Alam Nasyrah:5-6)
Sahabat, semua orang sukses pernah mengalami masa-masa susah. Mereka menghadapi kesulitan seperti kita. Hanya saja, mereka tidak berhenti. Oleh karena itu, kita pun sama, jangan berhenti karena susah.



»»  Selengkapnya...

Selasa, 26 Februari 2013

Jendela Rumah Sakit

Dua orang yang mempunyai penyakit serius menempati kamar yang sama di rumah sakit.
Pasien yang satu, setiap siang hari dibolehkan duduk selama satu jam supaya cairan yang ada di paru-parunya cepat hilang dan tempat tidurnya terletak di sebelah jendela satu-satunya di kamar itu. Sedang Pasien yang satunya lagi hanya dapat berbaring di atas punggungnya setiap hari.
Kedua orang ini berbicara tentang istri, keluarga, rumah tangga, pekerjaan dan keterlibatan mereka dalam tugas-tugas militer.
Setiap siang, ketika pasien yang dekat jendela duduk, ia menghabiskan waktunya bercerita kepada teman sekamarnya tentang semua yang ia lihat dari balik jendela.
Teman sekamarnya selama satu jam hidup dalam dunia yang lebih luas. Kegiatan dan warna dunia luar membuatnya lebih bergairah hidup.
Jendela itu menghadap ke taman yang di dalamnya ada telaga yang indah.
Angsa dan itik bermainan di atas air sementara anak-anak melayarkan kapal-kapal mainannya. Sepasang kekasih jalan bergandeng tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni seperti pelangi.
Pohon tua yang besar menambah indahnya pemandangan.
Garis bayangan kota terlihat di kejauhan. Setiap kali pasien yang di dekat jendela menjelaskan semuanya secara indah dan rinci, teman sekamarnya memejamkan mata membayangkan pemandangan itu.
Suatu siang yang hangat, pasien yang di dekat jendela menceritakan parade yang lewat.
Meskipun teman sekamarnya sama sekali tidak mendengar suara drum band, tapi ia dapat melihat parade itu dalam pikirannya karena temannya menggambarkannya dengan jelas.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Suatu pagi, perawat yang datang membawakan air untuk mandi mereka mendapati tubuh pasien dekat jendela sudah tidak bernyawa.
Ia meninggal dengan penuh kedamaian dalam tidurnya.
Perawat yang selama ini telah merawatnya merasa sedih.
Ia memanggil karyawan rumah sakit untuk memindahkan mayat itu.
Setelah menganggap layak waktunya, pasien yang lain bertanya apakah ia boleh pindah ke dekat jendela.
Perawat tidak keberatan dengan pergantian tempat ini.
Setelah merasa bahwa sang pasien telah berbaring dengan nyaman di sebelah jendela, sang perawat pergi meninggalkannya sendiri.
Perlahan-lahan dengan menahan sakit, pasien itu menggunakan sikunya agar tubuhnya naik dan dapat melongok ke jendela.
Akhirnya ia bakal melihat pemandangan indah itu dengan mata kepalanya sendiri.
Ia tegangkan badannya lalu perlahan-lahan berputar untuk melihat ke jendela.
Betapa kagetnya ketika ia mengetahui bahwa di balik jendela itu hanya tembok belaka.
Si pasien lalu menceritakan kejadian yang dialaminya kepada perawat.

“Apa gerangan yang membuat teman sekamarku berbuat demikian?” Tanya si pasien kepada perawat.
“Lelaki itu sesungguhnya buta, tembok yang ada di seberang jendela itu pun tak dapat dilihatnya.” Jelas si perawat.
“Mungkin ia ingin membesarkan hatimu…….!!!”


Sumber: Hikmah dari Seberang oleh Drs. Abu Abdillah Al-Husainy
»»  Selengkapnya...

Rabu, 13 Februari 2013

Perjalanan Hidup (Bagian 2)

Menjalani hidup di dunia ini tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang membuat kehidupan kita terasa membosankan, jenuh, atau sebaliknya penuh suka cita, penuh tawa, dan gembira. Namun itulah hidup, kita diciptakan dan dilahirkan di bumi yang indah ini tidak dengan cuma-cuma tapi kita punya visi dan misi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, Yang Maha Memiliki. 

Terlahir di dunia ini dalam keluarga muslim adalah sebuah nikmat yang wajib kita syukuri setiap saat karena tidak semua manusia terlahir dalam lingkungan Islam. Bisa kita bayangkan, jika kita terlahir dalam keluarga non-muslim kita mungkin saja tidak akan pernah merasakan nikmat, keindahan, kedamaian agama yang fitrah ini (Islam). Dan sebuah nikmat yang luar biasa pula jika anda pada saat membaca tulisan ini dalam keadaan sehat, bisa menghirup oksigen dengan bebas leluasa, tanpa perlu mengeluarkan biaya. Dan anggota tubuh kita masih bisa berfungsi dengan baik. Perhatikan jemari anda lalu gerakkan, pernahkan anda memikirkan hal ini? Sebuah hal yang luar biasa tanpa bersusah-susah jemari kita bisa kita kontrol semau kita, menggenggam, mengepal, dan sebagainya.

Kehidupan seorang manusia di dunia ini tak akan pernah berhenti hingga kematian yang akan menghentikannya. Dalam postingan berikutnya akan saya ceritakan sebuah perjalanan atau kisah seorang yang masih atau telah menjalani kehidupan di dunia yang fana ini, bagaimana kehidupannya yang mengalami pasang surut, berbagai cobaan, keceriaan, kebahagiaan dan yang lainnya.
»»  Selengkapnya...

Minggu, 30 Desember 2012

Perjalanan Hidup (bag 1)

Mempunyai cita-cita atau harapan atau impian tidak cukup untuk meraih kesuksesan tapi dengan disertai tekad, semangat tidak pernah menyerah, kemauan yang tinggi, serta doa maka seluruh cita-cita atau harapan atau impianmu akan menjadi sebuah kenyataan bukan bayangan

23 tahun sudah terlewati, kata orang 23 tahun bukanlah waktu yang singkat  tapi menurutku 23 tahun itu waktu yang singkat. Namun singkat atau tidak itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana mengisi waktu kita hingga berakhirnya waktu tersebut.
»»  Selengkapnya...

Kamis, 03 Februari 2011

Abbad bin Bisyr r.a

Sahabat Nabi yang kita bicarakan kali ini adalah seorang pemuda yang luar biasa kekhusyukan shalat dan tilawahnya, hingga panah yang menembus tubuhnya pun tak mampu memutuskan shalat dan tilawahnya. Sahabat Nabi yang juga member solusi strategi perang melawan pasukan Musailamah Al-Kadzab. Sahabat Nabi yang juga termasuk tiga orang paling utama dari kalangan Ansar menurut Aisyah, istri Rasulullah. Dialah Abbad bin Bisyr r.a


Abbad bin Bisyr adalah sebuah nama cemerlang dalam sejarah dakwah Islamiyah. Bila Anda mencarinya diantara para abid (ahli ibadah) maka Anda akan mengatakan dia seorang yang taqwa, suci, dan menegakkan shalat setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur’an. Bila Anda mencarinya di kalangan para pahlawan, maka Anda akan mendapatinya sebagai pahlawan yang gagah berani, telah mengalami banyak pertempuran demi menegakkan kalimat Allah. Dan jika Anda melihatnya di lapangan pemerintahan, maka dia seorang penguasa yang cakap, berbobot, dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum muslimin.

Ketika Islam mulai tersiar di Yatsrib, Abbad bin Bisyr masih muda. Kulitnya yang bagus dan wajahnya yang rupawan memantulkan kesucian. Dalam kegiatan sehari-hari dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap seperti orang-orang yang sudah matang jiwanya, meski usianya belum mencapai dua puluh lima tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang dai dari Makkah, pemuda Mush’ab bin Umair. Maka dalam tempo singkat hati keduanya terikat oleh ikatan iman; bekerja sama dalam urusan-urusan yang mulia dan masalah-masalah utama. Abbad belajar membaca Qur’an kepada Mush’ab. Suaranya lapang, merdu, keras, menyejukkan dan menawan hati. Karena itu dia senang sekali membaca kalamullah, dan melapangkan tempat yang luas dalam hati kecilnya, sehingga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulanginya siang dan malam, bahkan dijadikannya suatu kewajiban. Lalu dia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan sahabat Al-Qur’an.

Pada suatu malam Rasulullah SAW shalat tahajjud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan masjid. Terdengar oleh beliau suara Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur’an dengan suaranya yang empuk dan lembab, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hati beliau.

Maka Rasulullah SAW berkata , “Hai Aisyah! Suara Abbad bin Bisyr-kah itu?”
Aisyah menjawab, “Betul, ya Rasulullah!”
Beliau berdoa, “Ya Allah… ampunilah dia.”

Abbad bin Bisyr turut berperang bersama Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang dipimpin beliau. Dalam peperangan-peperangan itu di bertugas sebagai pembawa Al-Qur’an. Waktu Rasulullah kembali dari peperangan Dzatur Riqa’, beliau beristirahat bersama seluruh pasukan muslim pada suatu jalan di atas bukit.

Seorang prajurit muslim menawan seorang wanita musyrik dalam pertempuran, ketika wanita itu ditinggal pergi oleh suaminya. Ketika suaminya dating kembali, didapatinya istrinya sudah tiada. Dia bersumpah dengan Lata dan Uzza akan menyusul Rasulullah dan pasukan muslimin, dan tidak akan kembali kecuali setelah menumpahkan darah mereka.

Setibanya di perkemahan di atas bukit, Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapa yang bertugas kawal malam ini?”

Abbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir berdiri seraya berkata, “Kami, ya Rasulullah!” kata keduanya serentak. Rasulullah telah menjadikan mereka berdua bersaudara ketika kaum muhajirin baru tiba di Madinah. Waktu keduanya keluar ke mulut jalan (pos penjagaan), Abbad bertanya kepada Ammar, “Siapa diantara kita yang jaga lebih dahulu, sementara yang lain dapat tidur?”

“Aku yang tidur lebih dulu”, jawab Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan.

Suasana malam itu tenang, sunyi dan lembut. Bintang-bintang, pohon-pohon, dan batu-batuan seakan sedang bertasbih memuji Tuhannya. Hati Abbad tergiur hendak turut melakukan ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dia segera merasakan bagaimana manisnya ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dalam shalat. Sehingga nikmat shalat dan nikmat tilawah berpadu menjadi satu dalam jiwanya.

Dia menghadap ke kiblat hendak shalat. Dalam shalat dibacanya surat Al-Kahfi dengan suara memilukan, lembut, dan menawan. Ketika dia sedang bertasbih dalam cahaya Ilahi yang meningkat tinggi, tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya, seorang laki-laki dating memacu langkah tergesa-gesa. Ketika dilihatnya dari kejauhan seorang hamba Allah sedang beribadah di mulut jalan, dia maklum Rasulullah dan para shahabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Orang itu segera menyiapkan panah dan memanah Abbad tepat mengenainya. Abbad mencabut panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam dalam shalat. Orang itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu. Abbad mencabut pula panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama. Kemudian orang itu memanah pula kali yang ketiga. Abbad mencabutnya pula seperti dua panah yang terdahulu. Giliran jaga bagi Ammar bin Yasir pun tiba. Abbad merangkak seraya berkata, “Bangun, aku luka oarah dan lemas!”

Ketika si pemanah melihat mereka berdua, orang itu segera melarikan diri. Ammar menoleh kepada Abbad. Terlihat darahnya mengucur dari tiga buah lubang luka di tubuh Abbad. Kata Ammar, “Subahanallah! Mengapa engkau tidak membangunkan ketika panah pertama mengenaimu?”

Abbad menjawab, “Aku sedang membaca surat dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah! Kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rasulullah, menjaga mulut jalan tempat kaum muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dan shalat.”

Ketika perang memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu Bakar r.a., khalifah menyiapkan pasukan perang yang besar untuk mengatasi kekacauan yang ditimbulkan Musailamah Al-Kadzab. Menundukkan orang-orang murtad yang memihak Musailamah dan mengembalikan mereka kepada Islam. Maka Abbad bin Bisyr adalah pelopor dalam ketentaraan tersebut.

Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran, Abbad berpendapat kaum muslimin tidak mungkin menang karena kaum Muhajirin dan kaum Ansar saling menyerahkan urusan satu sama lain. Bahkan mereka berselisih. Maka yakinlah Abbad kaum muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan pasukan yang tidak kompak. Kecuali bila kaum Ansar dan Muhajirin membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh berjuang.

Suatu malam sebelum pertempuran yang menentukan, Abbad bermimpi dalam tidurnya. Seolah-olah dia melihat langit terbuka baginya. Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri ke dalam dan mengunci pintu, ketika subuh tiba, Abbad menceritakan mimpinya kepada Abu Said Al-Khudri. Ia mengatakan, “Demi Allah! Mimpi seperti itu benar-benar nyata, hai Abu Sa’id!”

Setelah hari siang, dan perang sudah mulai, Abbad naik ke satu bukit kecil seraya berteriak, “Hai kaum Ansar! Pecahkan sarung pedang kalian! Jangan kalian tinggalkan Islam yang terhina atau tenggelam, pasti bencana akan menimpa kalian…!”

Abbad mengulang-ulang seruannya, hingga akhirnya berkumpul di dekatnya kira-kira empat ratus prajurit. Diantaranya terdapat perwira seperti Tsabit bin Qais, Al-Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rasulullah.

Abbad dan pasukannya menyerbu memecahkan pasukan musuh dan menebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah Al-Kadzab terdesak mundur dan melarikan diri ke Taman Maut. Di sana dekat pagar tembok taman maut, Abbad gugur sebagai syuhada berlumuran darah syahidnya. Tubuhnya penuh dengan luka bekas pukulan pedang, tusukan lembing, dan panah yang menancap. Para sahabat hamper tak mengenalinya, kecuali setelah melihat beberapa tanda di tubuhnya.

Aisyah pernah memberikan kesaksiannya pada sahabat yang syahid di Taman Maut ini, “Ada tiga orang Anshar yang tidak seorangpun melebihi keutamaannya. Mereka adalah Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyr.” [Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah]

http://muchlisin.blogspot.com/2010/04/abbad-bin-bisyr.html
»»  Selengkapnya...

My Profil